Wrong Way (TOEFL Experience)

fb_img_1479969621793

Ini foto para siswa program bahasa angkatanku, Ulul Arham (MAK) & Marvelous (EDS), sebenarnya bersama Volunteers, berhubung mereka lulus terlebih dahulu, maka mau bagaimana lagi, padahal ingin rasanya menciptakan kembali kenangan bersama mereka seperti yang telah dilalui di SOP.

Foto ini diambil beberapa menit sebelum Tes Toefl dimulai dan beberapa menit setelah lembar soal dan jawab dibagikan.

Jika ditanya aku yang mana? Maka jawabannya adalah simpel. Aku tak duduk di barisan bagian depan. Aku tak terlihat jelas oleh kamera. Aku adalah dia baris keempat, orang yang sedang menundukkan kepala. Bukan karena mengantuk atau apa, tapi karena aku sedang mulai mengerjakan soal di bagian structure sendiri, karena bagian ini adalah bagian favoritku, bagian paling aku kuasai, bagian tersimpel dan dan tak kenal ribet. Aku paling tidak suka merepotkan diri. Tahu sendiri kan bagaimana harus seserius apa mendengarkan dan membaca? Thus, I don’t passionate on listening and reading test.

Ini yang menyebabkan aku duduk di bagian tengah dibanding berebut kursi bagian depan agar bisa dekat dengan speaker. Bagiku skor hanya sekedar bentuk tertulis dari sebuah kegigihan, dan aku bukan termasuk orang yang gigih, maaf jangan ditiru jika tak tahu aturan pakainya.

Padahal sebelumnya sudah diperingatkan agar tidak mengerjakan sebelum ada perintah untuk dimulai. Tapi sekali lagi beginilah aku, yang tidak suka mengikuti aturan. Jika sudah lengkap semua, maka untuk apa lagi menunggu. Aku sudah penasaran dan tak sabar ingin melahap semua soal structure-nya. Terbukti walaupun skor yang aku dapatkan masih terbilang tinggi +500 tapi aku tidak bisa menyaingi para siswa lain yang telah gigih berlatih setiap harinya hanya untuk menghadapi Tes Toefl. Bagiku belajar bahasa inggris empat tahun di MAK itu sudah cukup untuk menghadapi Tes Toefl yang akan sedang aku hadapi. Terbukti juga aku mendapatkan skor tertinggi di putra untuk bagian structure, untuk reading aku sama rata dengan yang lain, dan satu skor listening yang tidak berhasil mengangkatku ke puncak tertinggi. Bisa disimpulkan semakin tinggi tingkat keribetannya maka semakin rendah obsesiku padanya. Sekali lagi jangan ditiru.

Sekian

Musim Panas Sounds Good

Selamat musim gugur teman-teman. Walaupun musim gugurnya akan segera usai dan berganti menjadi musim dingin namun tidak ada salahnya saya menyapa teman-teman dengan ucapan itu, karena sekarang kita masih merasakan indahnya daun-daun berguguran, ditemani oleh angin musim dingin yang mulai menyambut kehadiran kita di batas awal musimnya. Lalu mengapa judul dari tulisan ini tertulis dengan musim panas? Apa sebenarnya yang ingin saya sampaikan pada kalian? Ya, musim panas adalah musim untuk mencinta, sedangkan musim gugur adalah musim perpisahan, musim dingin adalah musim kerinduan dan musim semi adalah musim pertemuan. Mau tahu rahasia mengapa saya bisa menyimpulkan seperti itu? Yuk, saya ajak kalian mengikuti kisah saya selama tiga bulan penuh berlibur di tanah air.

Kejadian ini bermula pada bulan ke delapan saya hidup sebagai pelajar di negeri orang, sebut saja Mesir. Belum genap sepuluh tahun namun saya sudah menamatkan masa studi saya untuk dua semster pertama ini, dan sekarang lah waktunya untuk iibur panjang musim panas.

Sebagai seorang junior yang tidak tahu menahu soal perkuliahan, jadi yang saya lakukan hanyalah menghadiri jam kuliah dan mengikuti ujian tertulis dan lisannya begitu saja selama satu tahun ajaran ini. Selalu apa yang saya dapatkan hanya informasi-informasi yang saya dengar begitu saja dari kakak-kakak kelas, termasuk libur panjang musim panas yang nantinya akan menjemukan. Mendengar kata-kata itu sontak saya berkeinginan untuk pulang ke Indonesia. Disamping saya tidak ingin merasakan kejemuan itu, saya juga ingin merasakan lebaran idul fitri bersama keluarga karena awal libur panjang musim panas ini kebetulan bertepatan dengan awal bulan ramadhan. Waktu itu masa berlaku visa saya sudah habis, maka saya putuskan untuk memperpanjang visa saya. Pada saat itu keinginan untuk pulang ke Indonesia belum memuncak karena masih ada sedikit kegiatan yang masih menyibukkan saya. Singkat cerita, di tengah proses perpanjangan visa, saya mengalami sedikit masalah stempel tasdiq dari kuliah saya melewatkan satu di antara tiga stempel yang diminta, maka saya diminta untuk meminta ulang tasdiq dari kuliah, dan paspor saya kumpulkan ke keluargaan saya yaitu KSW untuk diberikan pada konsuler. Selang beberapa lama setelah saya urus tasdiq baru, saya dikabarkan bahwa paspor saya hilang, saya pun langsung mengkontak pihak KSW waktu itu Akhi Mahdi kakak kelas saya sendiri yang menjabat sebagai wakil gubernur KSW, ia memberitahukan bahwa paspor saya sudah diserahkan ke gubernur KSW sendiri yaitu Mas Ulin dan sudah sampai ke pihak konsuler. Semua orang yang berhubungan dengan paspor saya hubungi, dan ternyata masalahnya ada pada keteledoran pihak konsuler. Berhari-hari lamanya saya menunggu akhirnya dengan rahmat Allah paspor saya ditemukan. Saya sempat putus harapan untuk pulang, rasa ingin pulang itu memuncak bertepatan sekali dengan kabar bahwa paspor saya hilang. Mendengar paspor saya hilang kala itu dan solusi yang ditawarkan oleh pihak konsuler adalah dengan menggantinya dengan yang baru, maka seketika rasanya bagaikan dibanting dari atas ketinggian. Harapan saya musnah ditambah rasa kecewa karena paspor lama itu telah menorehkan sejarah saya berkeliling ke tiga negara asia yaitu Singapura, Malaysia dan Thaliand.

Setelah mendengar kabar gembira itu saya langsung kabarkan orang tua bagaimana jika saya pulang saja ke Indonesia karena saya rindu hingga suatu hari saya tidak berpuasa karena saya menderita sakit demam yang amat sangat. Mendengar keinginan putranya sebagai seorang ibu tentunya tidak bisa menolak untuk bisa bertemu dengan buah hatinya, walaupun agak sedikit berat hati karena saya sedang dalam proses menuntut ilmu di negara orang yang sangat jauh dari rumah.

Singkat cerita lagi, akhirnya saya berhasil memesan tiket untuk kepulangan saya di hari terakhir berpuasa karena itu satu-satunya hari yang paling tidak amat terlambat untuk merasakan suasana lebaran idul fitri di rumah, setelah sebelumnya saya sempat menggagalkan pesanan tiket karena masih dirundung kebingungan, dan itu lah kebiasaan buruk saya, sulit untuk menentukan pilihan.

Di hari yang ditentukan saya diantar oleh teman-teman saya menuju ke bandara, saya pun take off dan selamat datang di Indonesia.

13612177_1167505159937040_5409786185971657418_n

“Saya” dalam Barisan Alenia (Nostalgia Santri Organisatoris)

Kairo, Sabtu 19 November 2016 23:41 CLT

12346396_1039099539444270_1467866989450566959_n

Perkenalkan nama saya Muhammad Fadhlurrohman, biasa dipanggil Fadhlu. Mungkin tidak ada gunanya saya memperkenalkan diri saya karena pembaca sekalian mungkin tidak mengenali saya sebab yang pertama mungkin karena kita tidak sezaman ketika kita masih menjadi pelajar di Pon. Pes. Al Hikmah 2 Benda dan sebab yang kedua adalah karena saya termasuk ambievert yang walaupun dominan ke extrovert yang ingin dikenal dan mengenal akan tetapi saya memiliki sisi introvert yang tidak pernah mengharapkan dengan sangat untuk dikenal oleh penggede-penggede pondok, karena jika saya dikenal oleh mereka maka saya harus menjadi orang lain ketika berhadapan dengan mereka dan menahan rasa ingin bercanda ria bersama teman-teman sebaya atau yang lebih muda dari saya dan saya tidak menyukai itu, jangankan penggede-penggede pondok, guru-guru di sekolahpun ketika ada yang mengenali saya maka saya akan bertanya-bertanya bagaimana mungkin beliau dan beliau mengenali saya. Karena saya sudah menderita mata minus sejak kecil tepatnya kelas tiga MI maka segala apa yang saya lihat itu terlihat kecil di mata saya termasuk diri saya sendiri walaupun banyak orang yang mengatakan saya sudah cukup dikatakan hebat karena memiliki potensi lebih dari teman-teman yang lain. Jadi simpelnya saya ingin enjoy menjalani hidup saya tanpa ada yang membatasi ruang lingkup saya berjalan di atas bumi ini kecuali Tuhan saya (Allah) dengan aturan-aturan yang telah Ia tetapkan pada hamba-hambanya, begitupun cara saya berinteraksi dan cara orang tua saya memperlakukan saya layaknya teman yang tidak ada canggung untuk mengungkapkan suatu hal namun sekedar mengerti batasan sebagai anak dan sebagai orang tua.

Kembali dengan diri saya pada saat dimana saya merasakan bahwa saya bukanlah diri saya. Seorang introvert yang pemalu dan penakut berhasil mengudarakan namanya di wilayah Bumiayu dan sekitarnya dengan menjadi seorang santri penyiar dan penyiar santri di radio swasta milik Pon. Pes. tersebut yaitu Tsania FM. Murid kelas persiapan MAK yang sangat penakut, tukang minder dan kadang suka takut salah kini beraksi di balik dinding-dinding tembok ruang on air. Tak pelak, dari hanya sekedar menjalani sebuah hobi akhirnya kini membuahkan hasil yang tak terduga, seorang penggemar radio Tsania dari kalangan ibu-ibu mengidolakan gaya saya siaran dan ingin menemui saya. Tepat seminggu setelah beliau berhasil menelepon saya sewaktu saya siaran, di jum’at pagi hari saya didatangi oleh seorang wanita gemuk memakai kaca mata yang sampai sekarang masih saya ingat namanya yaitu Bunda Ida. Setiap pekan di hari jum’at pagi seperti biasa beliau bertandang ke stasiun radio hanya ingin menemui saya, namun saya sering berhalangan hadir karena saya bersekolah di MAK yang menuntut saya untuk tidak pergi kemana-mana kecuali bersama buku pelajaran atau sebuah agenda. Saya tahu beliau sangat menyayangi saya hingga suatu ketika beliau pernah memberikan saya sebuah sarung dan bukan saya langsung yang menerimanya.

380579_445147942172769_394907003_n

Tidak hanya berhenti disitu, saya pun kembali memaksakan diri saya yang selalu merasa haus atas apa yang sudah saya raih dengan mengikuti seleksi kembali, perekrutan anggota baru M2Net, saya rasa saya tidak perlu menjelaskan apa itu M2Net. Saya pun terpilih waktu itu saya bersama sahabat saya Abdullah Husen, kami lah duta M2Net dari program keagamaan.

165893_435017246519172_278360375_n

Begitulah kegiatan saya di tahun pertama saya masuk MAK, kelas paling junior yang sedang menjadi sasaran empuk-empuknya dididik oleh KSPD namun saya lebih memilih untuk tidak mengekang diri saya untuk menjadi diri saya yang sebenarnya. Karena saya waktu itu murid yang terbilang sangat pintar di atas teman-teman lainnya, dan itu fakta saya mendapatkan posisi ketiga di tes seleksi masuk MAK dengan skor tertinggi mata pelajaran Bahasa Inggris yaitu 80, maka hanya sedikit senior yang berani menegur saya ketika saya berbuat salah dan jangan salah walaupun saya orangnya penakut namun di lain sisi saya juga seorang yang temperamen yang senggol bacok ketika ada cibiran tak mengenakkan dari seseorang. Terbukti saya beberapa kali adu jotos dengan teman-teman saya sewaktu saya masih di MTs. Hal itu sebenarnya ingin saya rubah di sekolah baru saya namun terkadang tanpa kendali sifat itu kembali muncul, masih bagus yang sering saya keluarkan hanya omongan-omongan pedas menjawab ocehan senior, pernah suatu ketika saya hampir berkelahi dengan senior -sekarang sudah almarhum- karena keadaan diri saya yang sulit diatur ini hingga ia mengatakan ia tidak akan pernah memaafkan diri saya sebelum saya meminta maaf padanya, dan saya tetap dengan ego saya.

Tahun berganti tahun, saya pun sekarang telah menjadi murid sah MAK alias naik ke kelas satu dan saya kembali diperebutkan oleh kakak kelas, namun kali ini dalam sisi kebaikan. Saya membuat bingung kakak-kakak kelas saya terutama Akhi Igo (sekretaris KSPD) dan Akhi Daus (Koord. Dept. Bahasa KSPD), kepada siapakah saya harus menjadi anggotanya, mengingat saya ahli dalam hal kepenulisan dan saya ahli juga dalam hal kebahasaan terbukti saya menjadi the best speaker di Friendly Match English Debate yang diadakan oleh KSPD dan EDS, mengalahkan senior-senior saya. Akhirnya setelah melalui perdebatan yang sengit akhirnya keputusan diserahkan pada saya, saya pun memilih untuk menjadi anggota dept. bahasa yang tentunya belum pernah saya rasakan sensasinya.

Di tahun berikutnya saya duduk di kelas dua MAK, saya menjadi koord. dept. bahasa (tunggal) dan tidak ada satupun teman-teman angkatan saya yang mau menemani saya, bahkan Ulin teman saya yang dulu pernah menjabat sebagai anggota dept. bahasa pada tahun lalu juga menolaknya dan lebih memilih untuk pindah ke dept. lain. Teman-teman yang terbilang unggul pun lebih memilih untuk menolaknya karena merasa tidak berminat dan berbakat pada hal semacam itu. Untung saja ada satu teman saya yang mau dan berkompeten menjadi partner senior saya menjalankan tugas ini walaupun sebelumnya banyak ditentang oleh teman-teman seangkatan lainnya karena ia mempunyai masalah dengan mereka. Sungguh sulit jika dibayangkan, namun sesungguhnya sangatlah mudah bagi saya walau ditinggal sekalipun saya bisa menanganinya karena ini passion saya. Saya jalani tahun gemilang ini di KSPD walaupun kadang bertabrakan dengan organisasi-organisasi yang saya ikuti sebelumnya. Sehingga posisi saya sekarang ini kadang dicari oleh KSPD dan kadang dicari oleh Radio Tsani atau M2Net, namun saya tak sebodoh itu, saya cerdik, saya gabungkan saya semua organisasi itu sehingga masing-masing dari mereka membutuhkan satu sama lain. Seperti contoh spesifikasi di KSPD, saya sejak kelas satu sudah diamanati menjadi mentor spesifikasi jurnalistik, saya bagikan ilmu yang saya dapatkan di M2Net pada mereka, saya ajarkan mereka membuat blog dan berbangga hati menggunakan domain malhikdua.com, walaupun di kelas dua ini spesifikasi itu dihapus dan saya sekarang menjadi mentor spesifikasi English Speech, setidaknya saya pernah mengkombinasikan organisasi-organisasi yang sangat menyibukkan saya menjadi satu padu dan saling membantu.

10268570_752441041443456_5559862333586169703_n

Di tiga tahun pertama itu kadang saya habiskan untuk berbuat jahil, mengikuti pelatihan-pelatihan yang sebenarnya saya sudah menguasainya namun saya tetap bersikukuh untuk mengikutinya, seperti pelatihan blog yang diadakan oleh Mas In’am Fajar, pengurus GOR sampai saya ditegur mengapa saya mengikutinya padahal saya sudah selevel dengannya.
Saya juga mengikuti perekrutan kru baru Majalah El Waha dan yang mengetes saya pada waktu itu adalah teman saya sendiri yang sudah tahu bagaimana kesibukan saya baik di sekolah maupun di luar sekolah, akhirnya saya pun ditolak dan itu tak masalah.

Menuju ke kelas tiga MAK, perlahan satu persatu organisasi-organisasi saya tinggalkan. Lengser dari KSPD, meluluskan diri dari M2Net karena teman-teman seangkatan sudah pada lulus sedangkan saya baru memasuki kelas tiga, kini hanya Radio Tsania yang masih saya lepas genggamkan, namun saya masih membantu M2Net jika diperlukan, karena memang dua organisasi yang saya ikuti ini selalu welcome dengan alumni-alumni jebolannya, terbukti ketika saya sudah kelas tiga dan ketika saya sudah lulus pun saya kadang masih diundang oleh mereka junior-junior saya yang saya cintai.
Masih ada karir satu lagi yang saya belum sebutkan yaitu menjadi Host Acara Khataman Aqidatul Awwam dan Tuhfatul Athfal karena sudah pernah saya posting di postingan sebelumnya yang berjudul “Dari Kucing Menjadi Macan”.

Dan sejak saat itu lah saya menjadi manusia yang seutuhnya, menjadi manusia yang dimanusiakan, namun sayangnya sekarang saya lebih menutup diri untuk memilih organisasi baru di tempat perkuliahan saya saat ini karena saya takut organisasi baru yang akan saya geluti tidak lebih baik dari organiasi-organisasi yang saya geluti sebelumnya, jadi lebih baik saya kembangkan dan teruskan perjuangan saya untuk menjadi seorang broadcaster, writter, blogger dan traveller. Terima kasih M2Net, Radio Tsania dan Pon. Pes. Al Hikmah.

Sekian.

Desaku yang Ku Cinta

Pagi ini, ku buka pintu rumahku, terlihat jelas di depan mataku, berbaris pepohonan, pisang yang mendominasi. Pikiranku melayang, mengingat masa kecilku yang selalu mengisi waktu luangku untuk berkebun dekat rumahku, walaupun itu bukan kebunku, masa itu sahabatku satu-satunya hanyalah alam, alam yang mengerti bagaimana menghibur hati yang gundah gulana ini, ketika aku merengek menangis karena tidak dituruti apa mauku, maka alam lah yang menenangkanku, bermain di atas pasir, mencari undur-undur, mengenali setiap tumbuhan yang aku lewati, bermain di sekitar sumur kebun, menerobos pagar-pagar pembatas kebun, terbeler, tersayat, tertusuk duri, itu hal biasa. Bersama kawan-kawan masa kecilku, kami memanfaatkan segala apa yang ada untuk dijadikan bahan mainan kami, kami tak butuh membeli plastik yang berbentuk orang-orangan, kami hanya mengumpulkan serpihan-serpihan genting yang sudah tidak terpakai, mencari plastik dan mengisinya dengan pasir, begitu saja kami sudah bahagia. Kini, pagar-pagar pembatas itu sudah semakin menjulang, menghalangi anak-anak untuk memasukinya, dua pohon yang sampai sekarang aku tak tahu apa jenisnya kini telah ditebang, pohon kelapa satu-satunya yang dekat rumahku pun sudah lama ditebang bersama dua pohon itu. Lapangan luas depan rumahku kini telah menjadi pabrik, sehingga namanya kini hanya tinggal sejarah. Pepohonan hijau sepanjang jalan kini telah menjadi bangunan-bangunan megah. Kini aku tak takut lagi di waktu malam menyusuri jalanan menuju ke surau. Bahagia memang, namun jika aku mengingat masa kecilku, hanya ada rasa sesak di dada. Ku lanjutkan perjalanan, ku starter sepeda motorku, ku lihat di sekeliling, masih tumbuh pepohonan kecil yang sama persis dengan dulu. Aku kira pohon-pohon ini yang masih bisa bertahan. Embun di atas dedaunannya, kabut yang menyentuh lembut wajahku, udara sejuk yang sangat menyengat di hidungku, pemandangan ibu-ibu hilir mudik membeli ponggol. Oh sungguh, aku tak ingin meninggalkan desaku ini. Tapi tak mungkin, aku hanya bisa berharap anak-cucuku nanti akan tahu bahwa negeri yang mereka singgahi ini sungguh indah, Indonesia – Jamrud Khatulistiwa.

Terima Kasih Sudah Mengantarkanku ke Sekolah

Hari ini adalah hari pertama kali anak-anak masuk sekolah. Pemandangan kemarin masih terbayang di benakku. Orang-orang tua mengantarkan anak-anaknya ke toko, membelikan alat-alat sekolah seperti tas, buku, sepatu, dan sebagainya, termasuk seragam yang besok akan mereka kenakan. Waktu itu aku bergumam, “Mengapa sekarang? Padahal besok akan dipakai, bagaimana jika hari ini tak menemukan seragam yang pas, tentunya hari ini mereka akan kewalahan mencarinya, atau bahkan hari ini mereka tak menemukan dan besok tidak mungkin untuk mencari lagi.” Sesaat kemudian aku melanjutkan gumamku, “Mungkin mereka berbeda, mereka yang tidak bisa membeli langsung apa yang mereka inginkan, mereka yang masih memikirkan sesuatu padahal hal itu telah tuntas mereka kerjakan, mereka yang butuh berhari-hari membendung tangisan hati acap kali anak-anak mereka menagih mana seragam baru mereka yang akan mereka kenakan di hari pertama mereka masuk sekolah, mereka yang senang bercampur sedih melihat anak-anak mereka bisa merasakan apa yang anak-anak lain rasakan, cukup.”

Pagi ini aku mengantarkan adikku ke sekolah, seperti biasa mataku tak bisa hanya berfokus pada jalanan saja, bukan melirik namun terlihat, pemandangan yang sangat eksotis, bukan hijau seperti perkebunan teh atau sawah, ini lebih keputih-putihan, berpadu dengan warna lain yaitu merah, biru dan kelabu. Berbagai macam gerak aku perhatikan, ada yang turun dari mobil dan menyalami ayahnya, ada yang turun dari motor dan melakukan hal yang sama, ada juga yang masih di jalan membonceng ibunya yang sudah lanjut usia, ada yang berjalan bersama kawan-kawannya, ada juga yang menikmati kesendiriannya. Orang-orang tua yang mengantar pun bermacam-macam bentuknya, mulai dari kalangan bawah yang seragam anaknya lebih bagus dari pakaikan yang ia kenakan, sampai kalangan atas yang seragam anaknya tak kalah mahal dengan kemeja dan dasinya. Tak peduli mana yang kaya, mana yang tidak, mereka semua sama, membanting tulang untuk menghidupi keluarga mereka, jangan pernah berfikir yang kaya hanya enak saja bekerja dan mendapat duit, mereka pun sama berkeringat, bahkan mungkin apa yang mereka fikirkan lebih rumit dari sesiapa selain mereka, mereka menanggung beban mental lebih, memikirkan bagaimana harta kekayaannya bisa membentuk pribadi anak-anaknya menjadi baik, karena jarang bagi mereka yang berada untuk bisa bertahan di dunia luar. Tanpa mengurangi rasa hormat saya pada yang lain, saya pun tahu rasanya menjadi orang tua, semua jenis orang tua berjuang demi anak-anaknya. Yang ingin lebih sayang tekankan adalah pada anak-anak yang merasa pernah di sekolahkan oleh orang-orang tua mereka, sudahkah anda sekalian rasakan hasilnya? Pintar, jelas. Namun yang menghiasi keberhasilan seorang anak sesungguhnya adalah akhlak. Orang tua mana yang mau anaknya sukses namun lupa pada mereka? Merasa bahwa kesuksesan yang ia dapat adalah jerih payah usaha ia sendiri.

Tak ada kata terlambat untuk belajar, tak ada kata terlambat untuk bertaubat, meminta maaf bukan hanya di lebaran saja, meminta maaf dengan lisan tidak ada artinya jika kelakuan masih saja bejat. Buktikan pada orang tua kita bahwa mereka adalah orang tua paling beruntung di dunia karena telah melahirkan, membesarkan dan mendidik anak yang sholeh/ah, penurut dan santun seperti kalian. Tidak masalah tidak lebih baik dari anak lain, menjadi yang terbaik untuk orang tua sendiri itulah dambaan setiap keluarga. Semoga kita diberikan oleh Allah yang terbaik di dunia dan di akhirat, tentunya hanya untuk Allah semata. Ya Allah ridhoi kami dalam menuntut ilmu ukhrowi dan duniawi, kami lakukan semua ini semata-mata hanya untuk mengharap ridho-Mu. Karena dengan ini yang hanya bisa kami lakukan, yang mungkin tak bisa membayar lunas hutang-piutang yang pernah Engkau berikan pada kami berupa kenikmatan yang tiada tara. Cukup sekian yang bisa saya tuliskan, kurang lebihnya saya mohon maaf, akhir kalam assalamu’alaikum wr. wb.

🙂

Fadhlu dan 48 Family

FB_IMG_1464559289034

Sebenernya niat gue mo nulis kek beginian nanti sehabis ujian karena sekarang kan gue kudu berkutat ama nyang namenye muqorror tuh, pusing gue tau gak lo. Tapi ya drpd gue nyepam di fb kan, karena fb beda ama twitter yg gak bisa di up dan muncul di beranda orang terus tiba-tiba banyak inbox yg ngomong gue kebanyakan ngapdet. Bosen gue sebenernye dengernye. Makanya gih pd punya twitter. Kan gak lucu temen gue bule semua di twitter -aseeekk-. Ohiya gue ini type orang yg kalo udah pgn lakuin sesuatu itu kudu dilakuin saat itu juga, mangkenye gue kagak bisa nahan buat nulis kek beginian, ya dg bermodal hape sahaja hamba yg tak punya laptop ini menulis. Drpd kepikiran terus bener kagak? Sebenernya elu mo nulis apaan sih dhlu dr td ngoceh mulu tp kagak ade intinye. Ohiya deh gue bocorin intinye. Intinye nih gue kepengen ngebuka tabir -aseekk bermajas- yg selama ini jd pertanyaan di benak agan-agan sekalian. Emang iya? Kagak tau, asal ngomong aja gue. Kepedean memang. Gak sih soalnya dulu sempat dan mungkin terbilang cukup banyak yg nanya kok suka jkt48 kenapa gak syekhermania kek yg lain. Gue jwb itu sih selera masing-masing. Sekarang gue tanya kenapa elu suka bola? Nah loh Gue suka nulis itu ya karena gue introvert, dan kok kadang elu pade liat gue nyerocos di depan umum, nah itu berarti jiwa extrovert gue lg kambuh. Gitu aja sih simple. Ohiya -dr td ohiya mele- gue lupa ama inti dr apa yg mo gue sampein. Gini nih, kan banyak tuh nyang nanye kok elu suka jkt48 sih dhlu? Kan itu bla bla bla. Mucrat liur lu ke muka gue. Ujan lokal tau.

Naluri

Ohiya udah nih gue jawab. Jadi pertama dan paling utama jkt48 itu cewek dan gue cowok, cowok suka ama cewek itu wajar bro. Ya walaupun itu bukan alasan yg tepat sih sebenernya. Karena jika gue cewek sekalipun -astoajim naudubilleh- gue juga bakal suka ama jkt48. Gak tau nape. Naluri kali yak buat suka kek begituan. Itu alasan pertama yg kurang berbobot.

Bisnis yang cerdas

Alasan kedua karena menurut gue jkt48 itu kreatif, katakan management 48 group, sebelumnya elu udeh pade tau kan kalo jkt48 itu cabang -eaelah kek mataharu aje buka cabang- dr jepang? Kalo blm cari di wikipedia gih, males tau gak gue ngejelasinnya. Ya intinya gitu. Kok bisa yah punya bisnis segede gini. Di jepang udah ade lima grup kek beginian dan bosnya cuma iji. Banyak bgt tuh duitnye. Eh ada dua lg rivalnya tp sengaja dibikin ama dia buat saingan 48 group, kalo yg dua ini 46 dan sama managernya. Ebusyet gila gak tuh. Belum lg di china tuh udah ada tiga, indo iji, thailand iji, Filipina iji. Belum lg satu grup itu terdiri dr lima team. Kita pukul rata ada 100 member lah di setiap grupnya. Itung sendiri lah gue males ngitung. Itu dr segi bisnis. Kalo lu pgn tau cara pemasarannya elu bisa ikutin deh kegiatannya mulai dr salaman selama sepuluh detik dg harga kurang lebih empat puluh rebeng. Dan masih banyak lagi yg lainnya. Kalo lu sekarang baru ngaidol mungkin lu kudu lari sekuat tenaga buat ngejar materi lu sebelum memeluk agama perwotaan ini -astoajim kualat gue- *bercanda*. Ohiya btw gue tau kek beginian dikasih tau ama temen gue dan dia dr temennya dia lagi yang juga jadi temen gue, gitu lah ribet. Tapi malah sononya yg kalah update dr gue. Kalo gue sendiri termasuk redwot dan pinkwot. Kebanyakan FJKT48 itu cuma berfokus ama JKT48, nah gue gak. Gue sebisa mungkin stalk yg ada di jepang onoh. Udah cuma jepang kok, yg lain gue kagak minat. Itu yg jepang lima grup aja gue udah keteteran mau nambah yg china? Wangcingcong butuh setaun buat translate beritanya. Ohiya nih gue ksh dikit bocoran yg ada di jepang namanya AKB48 warna khasnya pink makanya yg suka mereka sebutannya pinkwot, ribet jdnya kan. Nyusul dah ntar gue jelasin kalo elu mau bisa japri ke gua. Ada juga sister grup kek JKT48 tp di jepang yaitu SKE48, NMB48, HKT48, NGT48. Udah singkatannya elu cari sendiri di google.

Cantik

Ya walaupun gue suka jkt48 bukan berarti gue suka ama semua membernya. Gue suka ama yg cantik dan berkarakter aja. Selain itu ya figuran lah bagI gue. Ohiya kalo lu pgn tau oshi (member favorit) gue, dr team j gue suka Shania, team kiii ada Della dan team t ada Sisca. Walaupun mereka gak sehebat Melody dan Yuvia yg menurut gue keren dancenya.

Lagu motivasi dan cinta

Lagunya tuh pas buat kita para pemuda yg kadang jatuh bangun si dunia percintaan dan dlm persaingan dunia kerja atau pendidikan. Sering gue kalo lg naksir orang dengerin lagu jkt48 yg pas. Patah hati dan segala macem. Gue putus asa gak sedikit juga lagu yg berisi motivasi. Manager jkt48 itu paling topnya orang bikin lagu se-Asia. Lagunya emang dirancang dg tema bahagia gitu. Tp kalo emang suka paham kok apa yg disampaikan walaupun kadang gak jelas karena lagu jkt48 itu terjemahan lagu AKB48. Nada lagunya juga enak, gak lembek, gak alay dan enak bgt dinikmatin musiknya. Coba deh.

Tau perjuangan member dan turut merasakannya

Ya karena kegiatan mereka diekspos jd kita tau mulaI dr yg gak bisa apa-apa sampe jd multi talenta dan terkenal. Jd kadang kita juga gak pgn mudah putus asa seperti mereka dan terus meraih apa yg kita inginkan.

Dan masih banyak lagi beribu alasan yg udah ada bilangannya yak ampe ribuan tp gak bisa diungkapkan oleh kata-kata. Sekian, wassalam.

Kekuatan Pujian

Lebih dari tiga orang yang nginbox sekarang lagi khataman akhirussanah, gak jadi MC lagi khi?

Berasa dihargain karya gue. Seneng banget rasanya karya kita dihargain sama orang lain, dan seneng juga orang lain menikmatinya.

Sungguh sekarang gue bisa apa? Sekarang gue hanya pohon sakura yang tak tumbuh subur di padang pasir.

Gue ingin berkarya lagi, gue ingin orang lain bahagia, gue ingin everything at once.

Terima kasih kalian. 🙂

Pesan gue, jangan pernah gengsi untuk memuji -kecuali kalo orang yang dipuji kegeerannya minta ampun-, kalo gue bukan kegeeran loh, kegeeran tapi gak parah banget lah, cuma seneng aja liat orang lain seneng.

Dengan memuji juga bisa membuat orang yang dipuji terobsesi dengan pujian kita dan membara-bara ingin terus berkembang, namun dengan catatan tanpa bumbu penyedap, dalam artian kita memuji seadanya, tidak usah mengada-ada, dan sekalipun nggak ada yang ingin dipuji, lebih baik tidak usah daripada mengada-ada.

Karena dengan mengada-adakan pujian bisa menimbulkan suatu keburukan walaupun bisa juga menimbulkan kebaikan. Semisal orang yang kita puji terobsesi dengan pujian yang kita ada-adakan tanpa sepengetahuan dia, maka ketika ia membangun batu batu untuk dijadikan bangunan impiannya lalu jadilah bangunan itu, maka itu termasuk suatu kebaikan yang ditimbulkan oleh mengada-ada tadi.

Sebaliknya ketika kita melakukan hal yang sama namun justru bukan itu pohon yang pantas ia panjat, maka sudah menjadi tanggung jawab kita sebagai orang yang telah memberikan lecutan di awal ia meniti.

Tapi jangan ngejek kecuali kalo cuma bercanda dan hentikan candaan itu kalo terlihat orang yang diejek tidak menyukainya.

Intinya disini kita diajarkan untuk mengatakan sesuatu sesuai kadarnya.

Cayoo.. 🙂

Junior Gue, Fajar Maulana Hakim

Gegara Fajar udah liat status gue yang tentang Salafi, tangan gue jadi gatel pengen ngurek-ngurek siapa dia sebenarnya di otak gue. Mungkin ngamalin hadits kali yak, yang intinya kalo kita lagi masak terus tetangga ampe nyium baunya maka kita ngasih makanan yang sudah kita masak nanti buat dia, ya kira-kira seperti itulah.

Sebenernya sih gue muji Salafi juga lagi gak ada kerjaan aja, gue cuma ikut insting aja buat nulis kek gituan. Sebenernya juga gue orangnya selalu kagum sama kelebihan yang dimiliki seseorang, walaupun mungkin price nya masih kalah sama yang lain, tapi gue lebih ngeliat ke value nya masing-masing sih.

Nah, sekarang giliran gue muji nih bocah, bukannya apa, bukan gue alih profesi dari seorang mahasiswa menjadi orang yang suka bikin geer sih. Tapi emang beneran ini gue pengen nulis sendiri, mumpung udah lulus kan, udah gak bisa ketemu mereka lagi, jadi gak ada salahnya lah.

Fajar, Fajar yak? Mungkin gue sih gak deket-deket amat ama dia cuman gue tau lah siapa dia dengan pribadi baiknya yang ia miliki, anzeerrr..

Kita mulai dari KP, waktu dia KP lemari gue ama dia deketan, waktu itu gue masih kelas dua, gue kan yang jadi salah satu orang tua asuh mereka. Lemari sengaja didesain deketan biar bisa akrab ama senior dan junior. Tapi nggak tau kenapa gue gak deket ama dia, apa mungkin karena passion kita berbeda jadi gak pernah long last kalo ngobrol atao gimana gue juga kagak tao. Mungkin juga karena gue dulu sok sibuk gitu lah, jarang di rumah suka pergi alias djarum super. Ditambah gue dulu kan ngesetting diri gue biar keliatan galak, biar junior pada patuh ama peraturan, bukan ama gue. Ya begitulah.

Fajar itu termasuk orang yang punya ambisi besar, dengan cita-citanya yang ingin menjadi duta besar dia gak bercanda untuk meniti hidupnya akan terus gemilang, dia mungkin agak kurang pede untuk menunjukkan aslinya tanpa dia ketahui kalo sebenernya itu bakat tersendiri buat dia, ya bener bakat dia karena mungkin tinggal di jakarta jadi pedenya itu dapet, dan kalo udah pede nglakuin apa aja dia jadi dan bagus hasilnya.

Mau bukti? Bukti sepele kaya kalo dia lagi ngelawak alias saling lempar umpatan ama si Fawaz, obrolannya tuh lucu bikin ngakak, mungkin kalo dia open mic di kafe bakal laku keras nih stand up comedian.

Tapi bener, bukti lain story telling bahasa, debat bahasa, jadi MC, wuih.. itu semua kalo dia mau percaya diri untuk mendapatkannya dan dia udah merealisasikannya.

Dia termasuk orang yang kreatif, terbukti dari tulisan tangannya yang bagus banget kaya tulisan cewek yang kata dia dulunya kaya ceker ayam saking jeleknya diejek ama kakak ceweknya, pemikirannya juga gak bisa diprediksi, jadi mungkin dia lebih matang dalam hal beginian.

Dia juga punya kecerdasan linguistik sih kata aku, soalnya nggak cuma jago di arab, inggrispun dia jago, dan nggak cuma satu skill yang dia kuasai, bisa dibilang keseluruhan dia pegang lah.

Terbukti ketika dia berlafal, lahjah indonesianya gak terdengar sama sekali, ketika menulispun, mendengarkanpun, dan kaidah dia gak bisa dibilang rendahan.

Cukup segini aja sih menurut gue, gue sampein aja yang gue tau, takut ngutarain apa yang gak gue tau kan jadi sotak nantinya, sekian.

Kelas Kita

2015

FB_IMG_1461684892123

Ini foto di kelas kita. Aku ambil dari bangkuku. Bisa dilihat itu ada kitab at-tadzhib yang biasa kita ngaji sama Abah Mukhlas di moving class. Siapa yang masih inget jadwal? Aku udah lupa.

Itu bangkunya Fikri ikut kejepret. Biasa kita kalo lagi gerah baju sama peci dilepas, habis itu kalo tiba-tiba guru dateng pada kebingungan dimana naruh peci sama bajunya.

Nggak ada foto presiden sama wakilnya karena baru dilantik dan kita bingung, rasanya nanggung kalo beli baru lagi sedangkan kita sebentar lagi mau lulus.

Di papan tulis ada tanggal masehi dan hijriyah yang biasa ditulis sama sekretaris, Ulinnuha.

Ada papan informasi kelas yang isinya tentang data-data kita. Walaupun udah kelas akhir tapi nggak ada bosennya nulis data kita disana, dan yang hanya kelas kita yang melakukannya yaitu nulis nama ayah kita di belakang nama kita di absen, sudah kita lakukan sejak kelas satu.

Ada placard tata tertib sekolah yang sering kita pandang ketika kita maju ke depan bingung mau ngapain, dan kalo pelajaran kosong nggak ada kerjaan.

Pintunya terbuka, dengan keadaan seperti ini bisa dipastikan foto ini diambil pada saat jam pelajaran kosong karena masih ada baju, dan mungkin sebagian ada di belakang sedang tiduran atau mainan gak jelas dan sebagian lagi pulang ke kamar, padahal nggak tau di kamar juga mau ngapain. Sarapan mungkin.

Saya B.J. Habibie Versi Almamater

IMG-20160408-WA0000

[Part 1]

Mulai dari pemilihan ketua almamater dan pimpinan redaksi buletin almamater.

Waktu itu saya mendapat lima suara dan itu sudah terbilang banyak untuk saya yang masih sangat baru, bahkan senior yang lain pun belum bisa menyaingi saya. lima suara ini berhasil mengantarkan saya menjadi calon pimred bersama dua senior lainnya.

Namun hanya karena saya masih sangat baru waktu itu dan dirasa tidak mumpuni untuk mengemban amanah itu, akhirnya nama saya dihapus begitu saja. padahal mereka belum tahu kalau saya punya sejarah pernah menjadi wartawan sekolah semasa saya masih di bangku SLTA.

Di kepengurusan almamater pun saya diragukan untuk menjadi salah satu pengurus. jangankan almamater, buletin almamater yang tadinya saya hampir jadi pimrednya, saya tidak mendapatkan kursi kosong.

Pada kenyataannya hampir di setiap program selalu saja saya dibutuhkan, baik itu dimintai tolong untuk memotret agenda yang sedang berlangsung lah, karena emang saya punya dasar keterampilan memotret, hingga saya diminta untuk menuliskan berita untuk agenda yang almamater adakan. Halo, siapa saya? Saya hanya anggota yang tidak dilirik sama sekali oleh kalian. Tidak, sama sekali tidak akan pernah saya mau untuk berlelah-lelah dengan apa yang sebenarnya bukan tugas saya.

Di kajian-kajian yang sering diadakan almamater pun saya selalu merasa miris dengan kemampuan menulis yang anggota lain miliki, sebenarnya banyak kesalahan penulisan yang ingin saya sampaikan dari benak saya, namun apa lah saya yang jika berbicara tidak terjamin didengarkannya. Jadi saya hanya mengutarakan sedikit dari sekian banyaknya kesalahan-kesalahan termasuk kesalahan yang sangat menonjol dan jarang alias tidak biasa dibahas. tapi saya sendiri tidak tahu apakah apa yang saya sampaikan membekas di pikiran mereka atau tidak. saya tidak perduli.

Merasa saya ingin menjadi manusia yang berguna, akhirnya saya memberanikan diri untuk mengikuti seleksi perekrutan anggota baru di salah satu buletin yang ada di sini. dan kabar baik saya diterima.

Awalnya saya ragu karena setelah saya berkunjung ke dapur redaksinya saya tidak mendapati apa yang dapur redaksi majalah pesantren dulu saya belajar miliki -yang pernah menolak saya untuk menjadi bagiannya hanya karena saya sudah banyak berorganisasi (redaksi sekolah dan radio) serta program sekolah saya sendiri yang sudah padat dengan seabreg agendanya-.

Keraguan itu saya tepis, karena saya pikir selama hampir setahun ini saya belum bisa menjadi manusia yang berguna. dan untuk masalah prioritas, kuliah dan ngaji adalah prioritas utama, dan organisasi ada setelahnya.

Sekalipun saya gagal pada kuliah saya nantinya -naudzubillah-, maka keputusan saya untuk memilih organisasi sebagai prioritas baru tidak bisa disalahkan begitu saja, karena saya rasa masing-masing dari butuh wadah untuk mengembangakan sumber daya manusia yang kita miliki.

Singkat cerita, saya merasa nyaman, saya merasa dianggap, saya merasa diri saya dinamis, tidak stagnan. saya berterimakasih karena tidak dihiraukannya keberadaan saya sebelumnya bisa mengantarkan saya kepada jalan yang saya rasa saya tersesat di jalan yang benar.

Saya pernah diamanati menjadi tim redaksi suatu kajian keilmuan yang diadakan oleh organisasi terbesar disini, namun saya pikir kembali ini justru sangat merepotkan saya karena jika dibanding kajian itu sendiri, tugas ini membuat saya lebih berdokus pada keredaksian. Akhirnya saya mengundurkan diri karena memang saya lelah dan tidak menyukai sesuatu yang berbau mengikat.

[Part 2]

Beredarlah info lomba debat yang diadakan oleh salah satu almamater yang ada di sini. seketika itu saya sudah tertarik untuk mengikutinya, diperkuat ketika suatu malam saya bermimpi saya berada di panggung lomba debat tersebut, walaupun panggung yang ada dalam mimpi berbeda dengan nyatanya.

beberapa hari setelahnya, belum lama dari hari malam saya bermimpi, waktu itu kalau tidak salah sekitar jam sembilan pagi, kebiasaan saya pada jam segitu saya baru bangun dari tidur, saya tidak sengaja mendengar obrolan kawan-kawan saya bahwa sayalah yang akan mewakili lomba debat tersebut menemani rekan saya. Saya pura-pura saja masih tidur. merasa mimpi itu sebagai petunjuk untuk menerima tawaran tersebut, akhirnya saya menerimanya dengan dibumbui basa basi penolakan di awalnya.

Entah setan apa yang berhasil membujuk saya untuk menerimanya, padahal walaupun saya sering sekali memenangkan lomba debat dan menjadi the best speaker pada masa SMA, tapi debat kali ini bukanlah debat yang sama dengan debat yang dulu saya sering ikuti yaitu berbahasa inggris, kali ini debat berbahasa arab yang nota benenya saya hanya sebatas jago dalam memahami teks berbahasa arab serta mengarang kata ke dalam bentuk tulisan.

Awalnya banyak sekali hujatan-hujatan yang memenuhi telinga saya, mulai dari saya dinilai tidak mampu lah, dan lain-lain. pada saat ini lah saya merasa saya hanya sebuah titik di tengah-tengah papan lukis. Namun beberapa teman seangkatan terus mendukung saya karena mereka tahu saya dulu siapa, mereka teman yang mengerti perasaan serta apa yang teman seperjuangan mereka butuhkan. bukan mereka para senior yang semasa pun hidup dengan saya tidak pernah.

Hanya berbekal rasa percaya diri, saya nekad maju ke depan, tampil dengan lugunya, hingga akhirnya selesai dan kembali menghirup udara kesegaran setelah tegang sebelumnya berada di depan. Di saat ini hati saya bergejolak, otak saya menyimpulkan dari keburukan yang saya tampilkan saya tidak akan bisa lolos menuju ke final, dilihat lagi dari lawan-lawan yang sangat lanyah berbahasa arab sehingga mereka terhias oleh suara fasih mereka. Namun hati saya berbisik kamu akan berjalan selangkah lebih maju, mengingat sebelumnya saya telah meminta restu dari orang tua karena saya ini orangnya serba orang tua jadi sedikit saja perkaranya maka akan saya obrolkan dengan mereka, lalu ketua almamater serta teman-teman seangkatan yang dengan tegas telah mendukung saya sepenuhnya, ditambah dengan keyakinan konyol saya yang sering saya lakukan yaitu mempercayai kalau de javu itu benar adanya.

Merasa saya tidak ingin malu jika ternyata diumumkan tim saya tidak lolos, maka saya putuskan untuk pulang ke rumah. namun pada kenyataannya rekan tim saya menelefon saya dan untung saja pada waktu itu saya masih berada di masjid terdekat dan handphone sengaja tidak saya silent mode karena saya yakin 100% handphone ini akan bunyi nantinya.

Ternyata benar tim saya lolos, saya pun berlari secepat mungkin, dengan keadaan ngos-ngosan saya duduk di kursi panas di atas panggung lomba.

Karena waktu itu final, jadi tema debat masih dirahasiakan, dan ketika diberitahu tema debatnya kebetulan sekali tema debatnya cocok dengan passion yang selama ini saya jalani. Jadi walaupun saya tidak selanyah lawan berbicara setidaknya saya memiliki pengetahuan banyak tentang apa yang sedang saya bawakan. alhasil kami pun menang.

Ucapan selamat kami terima, walaupun masih saja ada yang memandang negatif, berdalih kalau lawannya saja lah yang tidak seberapa ada juga yang berpendapat kalau lomba seperti itu bukan seberapa. Tapi tak apa lah, mereka penonton yang hanya bisa berkomentar seakan-akan mereka menganggap kalau dewan juri itu buta.

Sekian.