Menjaga Kesucian Diri ketika Bermuamalah dengan Manusia

Uzlah adalah menjauhi manusia tanpa meninggalkan jamaah (Fudhail bin Iyadh). Begitu pula zuhud, menjaga kesederhanaan diri kerita berada di tengah kekayaan, berusaha agar menaruh dunia ada pada tangan bukan pada hati. Menjaga kesucian diri ketika bersama manusia adalah hal yang sangat sulit. Manusia akan mengetahui bahwa kita sedang membawa air yang jernih. Manusia membenci sesuatu yang lebih indah dari apa yang mereka miliki. Umumnya air jika diobok-obok maka sedikit sekali yang masih jernih. Ya Allah jadikanlah kami yang selalu menjernihkan sekitar kita bukan malah menjadi keruh karena sekitar. Mirip-mirip pesan ayahanda B.J. Habibie. Kejernihan hanya didapat pada balita dan manula. Jangan mengharapkan itu pada pemuda/i yang masih segar, yang masih bergelora, yang masih berhasrat untuk memenangkan kehidupan. Saya takut tindakan saya nantinya tidak mencerminkan apa yang saya katakan. Namun untuk sejauh ini saya selalu mengatakan apa yang saya sudah rasakan. Manusia tempatnya salah, bukan berarti kita hanya diam saja. Dalam surah Al Ashr Allah swt memerintahkan hamba-Nya agar saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran. Dosa manusia berbeda-beda, itulah mengapa kita diminta untuk saling menasehati. Jika kita menunggu nasihat dari orang yang sempurna, maka tidak akan pernah ada dakwah di dunia ini. Sebenarnya bukan seberapa ilmu yang didapat, melainkan berserta pengamalannya. Tidak ada niatan untuk menyindir seseorang, justru saya tersindir dengan perkataan saya sendiri.
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (آل عمران : ١٠٤)